Sudahkan Kita Berkepribadian dalam Kebudayaan?

oleh
134 views

Sudahkah Kita Berkepribadian dalam Kebudayaan? Menyoal Revolusi Mental.

SatuSuaraExpress.com – Memasuki tahun keempat pemerintahan Jokowi-JK yang pada masa kampanye lalu mempresentasikan Revolusi Mental sebagai tagline yang berpijak dari konsep “Trisakti” yang dirumuskan oleh Bapak Bangsa Ir. Soekarno, rasa-rasanya masih jauh panggang dari api.

Konsepsi Trisakti terdiri dari tiga pilar yaitu berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Berdaulat secara politik adalah pilar penting agar Indonesia menjadi bangsa kuat, besar dan dihormati dunia. Sebagai bangsa yang berdaulat berarti bangsa yang merdeka, mandiri, tidak dibawah kendali dan tidak menjadi pelayan atau kuli dari bangsa-bangsa lain. Berdaulat secara politik juga dimaknai sebagai keberesan dan kematangan dalam kehidupan perpolitikan nasional yang ditandai dinamika politik yang berorientasi kebangsaan dan kenegaraan dengan citarasa kerakyatan.

Berdikari dalam ekonomi dimaknai sebagai imperatif mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agar rakyat adil makmur sentosa. Intinya sistem dan kebijakan ekonomi yang dirumuskan dan dijalankan harus berpihak dan mengutamakan rakyat, bangsa dan negara sendiri bukan rakyat negara lain.

Berkepribadian dalam kebudayaan, yaitu adanya sistem nilai yang menjadi identitas dari segenap rakyat Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa. Identitas keIndonesiaan yang merangkul dan merangkum seluruh kebhinekaan yang ada. Bangsa yang berbudayalah yang bisa menghantarkan menjadi bangsa yang bermartabat.

Jika mencermati polemik dan dinamika politik kekinian, ada kekhawatiran dan kegalauan dalam tanya, kapan negeri ini akan bangkit dan maju? sementara para elit hanya sibuk untuk mengejar atau mempertahankan kekuasaan, saling hujat, saling menyerang dan saling sikut.

Tidakkah kita malu dengan para pendiri bangsa yang telah memperjuangkan dengan segenap jiwa dan raganya untuk mewariskan Indonesia merdeka, dan mereka pun telah meletakan dasar-dasar negara Indonesia yang menjadi pedoman dan landasan sebagai sebuah negara bangsa yang moderen, besar dan majemuk yang akan senantiasa relevan yang digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia? Memang Soekarno telah memperingatkan, perjuanganmu lebih berat dari perjuanganku, karena kami melawan bangsa asing, sementara kamu melawan bangsamu sendiri. Sejatinya perjuangan kita tak menjadi lebih sulit jika dilandasi kesadaran kebangsaan dan adanya kesepahaman nilai yang dianut karena generasi masa kini memiliki dan didukung lebih banyak sumberdaya serta instrumen untuk mengakselarasi pencapaian tujuan kemerdekaan.

Namun hari ini rakyat dipertontonkan dagelan para elit yang terus menerus mereproduksi dan memelihara potensi konflik untuk memburu kekuasaan tanpa ada rasa malu untuk bisa lebih kreatif, produktif dan inovatif serta menjadikan kepentingan bangsa, negara dan rakyat sendiri sebagai yang utama dan diutamakan.

Apa yang dapat kita maknai dan rasakan dari Revolusi Mental, tatkala sesama anak bangsa saling berhadap-hadapan? Sudahkah revolusi mental mewujud, manakala terjadi pembelahan dimasyarakat? Dibuat demarkasi dan pengkotak-kotakan serta diperhadap-hadapkan dengan label kelompok Islam dan kelompok nasionalis. Masih terbayang jelas dalam memori publik, pembelahan pada Pilgub DKI lalu. Akankah ditahun politik ini, jika sistem politik yang Presidential Thresholdnya 20% kursi DPR-RI atau 25% suara nasional hanya meloloskan dua pasang sebagai Capres dan Cawapres tak akan mengulangi atau bahkan semakin memperuncing pembelahan dan potensi gesekan sesama anak bangsa? Kita semua berharap daya redam dan daya tenggang seluruh anak bangsa akan konflik tak habis terkikis.

Kita juga tentu berharap dinamika dan konflik yang manifest senantiasa terkelola dan menemukan saluran-saluran yang tepat. Disinilah urgensi nilai-nilai budaya bangsa sebagai perekat dan pemersatu sehingga sesanti Bhineka Tunggal Ika menjadi nilai yang hidup tak sekedar slogan semata.

Mencermati dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara kekinian, pasti ada yang salah dengan mental bangsa saat ini, karenanya kami sangat mendukung dan mendorong wacana Kongres Pemuda Ke-3 dengan memasukan satu tambahan nilai lagi dalam kehidupan bernegara kita yaitu:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbudaya satu BUDAYA INDONESIA.

Dengan memasukan Budaya dalam filosofi bernegara kita maka negara Indonesia yang kuat, berdaulat dan bermartabat yang hendak kita tuju akan lebih cepat terwujud.

Kita berharap kelompok civil society utamanya kelompok pemuda hadir dan tampil pro aktif memainkan perannya untuk ini, kepada mereka kita lebih percaya. Ada kecemasan dan kecurigaan jika ini dimainkan oleh kekuasaan, nanti yang akan mewujud hanyalah kebudayaan sebagai instrumen hegemoni.

Penulis: Ihwan Datu Adam (anggota DPR-RI Dapil Kaltim-Kaltara)

Pewarta: uaa
Editor: mw